Home > Power Plant Technology > Menghitung Kerugian saat Black Out

Menghitung Kerugian saat Black Out

Bagi anda yang kuliah di engineering, tentu anda sudah sangat familiar dengan istilah Black Out. Kalau kita lihat di kamus Mas Google, black out artinya jatuh pingsan, meniadakan, menghapuskan. Dari sisi konsumen listrik, black out dapat diartikan kejadian terputusnya supply listrik disuatu area distribusi sehingga seketika menjadi gelap gulita, pompa air mati sehingga susah mandi, menjadi gerah karena AC mati, komputer mati tak bisa nge-blog, makan malam pun terpaksa ditemani cahaya lilin, walau lebih romantis tapi mulut tetap saja melontarkan sumpah serapah kepada produsen listrik. Inilah yang terjadi dengan konsumen rumah tangga, lantas bagaimana dengan konsumen industri yang pabriknya sangat bergantung dengan supply listrik dari produsen listrik tersebut, bisa jadi ratusan ribu dollar bisa lenyap seketika karena gagal produksi. 

Black out secara umum disebabkan oleh kegagalan secara tiba-tiba equipment di Pembangkit Listrik (Boiler, Turbine/Generator, Trafo, Jaringan Transmisi) saat normal operasi,  kalau bahasa pabriknya biasa di sebut “trip”. Dalam kondisi ini, terjadi ketidakseimbangan antara supply listrik dari pembangkit dengan kebutuhan listrik di area sehingga terjadi pemadaman total untuk seluruh area. Untuk pembangkit yang terdiri dari beberapa boiler dan turbine/generator yang tersinkronisasi dengan frekuensi 50Hz, kegagalan salah satu plant dapat mengakibatkan turunnya frekuensi (under frequency), hal ini sangat dihindari dalam proses pembangkitan, oleh karena itu untuk menjaga frekuensi tetap 50Hz, pilihannya adalah dengan memutus beban listrik dari suatu area distribusi. Di sisi lain, kegagalan di salah satu plant harus bisa diatasi dengan meningkatkan produksi listrik plant yang lain sehingga pemadaman yang terjadi tidak terlalu over (Over Load Shedding), dengan catatan plant yang lain tidak sedang dalam kondisi beban puncak. Di sinilah terjadi prosess balancing antara supply yang menurun dengan demand yang tetap. Dalam hal ini, dari sisi pembangkit listrik masih belum bisa dikatakan sebagai black out, karena hanya di sebagian area saja yang tejadi pemadaman, istilah pabriknya load shedding.

Dalam kasus black out, prosess balancing antara supply dengan demand tidak terjadi dengan baik, sehingga frekuensi menjadi tidak terjaga dan menyentuh alarm low-low (under frequency) yang secara otomatis akan memerintahkan seluruh turbine/generator untuk trip karena tidak mampu lagi untuk mempertahankan frekuensi (terjadi prosess safety interlocking). Dalam kasus ini, seluruh plant yang bekerja secara paralel akan totally shutdown, tidak ada sedikitpun Daya Listrik yang tersisa, seluruh area distibusi akan mengalami pemadaman total.

Black out secara massive ini pernah terjadi di Jawa Bali, saya kutip dari artikel The Jakarta Post, August 19, 2005 “Massive blackout hits Java, Bali”

A failure in 500 kilovolt (kv) transmission line between Cilegon and Saguling in West Java cut electricity supplies at 10.23 a.m, this led to a cascading failure that shut down two units of the Paiton plant in East Java and six units of the Suralaya plant in West Java, combined capacity 4000 megawatts (MW) shut down“.

Kejadian serupa juga terjadi pada bulan maret 2009, dimana terjadi kegagalan pada gardu induk PLTU Suralaya sehingga mengakibatkan kehilangan daya sebesar 1200 MW.

Dalam kedua kasus diatas, seperti yang telah disebutkan di atas bahwa kegagalan jaringan transmisi juga menjadi penyebab terjadinya black out. Dalam hal ini, beban terputus secara tiba-tiba sehingga turbine akan mengalami overspeed yang akan menyebabkan efek yang sangat berbahaya bagi power plant. Sehingga dengan pertimbangan safety, sistem kontrol pembangkit listrik secara otomatis akan memerintahkan turbine untuk shut down. Biasanya bagi anda yang tinggal di dekat pembangkit listrik, anda akan mendengar suara ledakan dan gemuruh keras saat kejadian ini. Jangan kaget, karena ini adalah suara steam venting atau proses dibuangnya uap bertekanan tinggi yang menuju turbine ke udara karena turbine tiba-tiba tidak beroperasi. Inilah salah satu proteksi dalam pembangkitan listrik.

Sebenarnya judul posting ini tidak sesuai dengan isinya, tetapi sekedar gambaran prosess terjadi nya black out, pembahasan salah satu mekanisme proteksi pembangkitan listrik, dan mengajak anda untuk berpikir berapa juta penduduk Jawa-Bali yang komplain saat terjadi black out 4000MW dan 1200MW yang pernah terjadi di Jawa Bali. Dan jika anda sempat, silakan dihitung berapa rupiah kerugiannya.🙂

Let’s share the ideas!

Tofan Azhar Hakim

  1. December 27, 2009 at 10:08 am

    suatu sistem black out maka itu menandakan sistem terseubt telah mencapai kondisi kritisnya..kalo dah modar sebelum waktunya berarti ada yang salah disitu

  2. December 27, 2009 at 10:12 am

    betul banget bro, biasanya black out terjadi karena critical equipment mengalami failure, bisa disebabkan karena umur yang sudah tua (obsolete), kurang preventive maintenance, atau karena human error dalam pengoperasian. Karena kucing juga bisa lho, contohnya trafo short circuit gara2 ada kucing kesetrum di trafo.🙂

  3. December 27, 2009 at 11:46 am

    salah perencanaan lah klo gitu! klo kesalahan luar itu sih ga bisa dikontrol!

  1. No trackbacks yet.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: