Saatnya Beli Ponsel
Sudah sejak 2005 saya masih setia dengan ponsel Sony Ericsson K508i. Selama lebih dari 4 tahun pakai ponsel tersebut, akhirnya gejala sekarat mulai bermunculan, mulai dari mengelupasnya cat casing, keypad joystick yang macet, beberapa tombol keypad yang tidak berfungsi lagi, suara yang mulai kemresek sampai signal yang sering kali hilang timbul. Dan selama kurun waktu tersebut, tidak terhitung lagi berapa kali terjatuh bahkan sampai pernah terlindas mobil.
Selama ini saya selalu bertanya-tanya berapa tahun sebenarnya lifetime dari ponsel saya. Maklum, karena di kantor sempat ngurus masalah spare part untuk peralatan control system (mostly electronic devices) yang rata-rata lifenya sekitar 10 tahun dengan continuously running. Berhubung di pembangkit listrik faktor safety process sangat diutamakan, maka manajemen penggantian peralatan control system sangat penting untuk dilakukan sebelum peralatan-peralatan tersebut rusak mendadak saat sudah tercapai lifetime-nya. Kerusakan mendadak ini sangat dihindari dalam process produksi di industri khususnya power plant, karena dapat menyebabkan production loss yang besar dan dapat pula menyebabkan unsafe condition. Wah, kok malah nglantur mbahas manajemen spare part gini ya.
Kembali lagi ke masalah ponsel saya yang harus diganti. Ada yang tahu berapa lifetime ponsel jika dipakai terus menerus? Saya sudah cek dan ricek ke website produsen-produsen ponsel tapi sama sekali tidak menemukan informasi tersebut. Padahal menurut saya informasi lifetime sangat penting diketahui oleh konsumen sebagai pertimbangan pemakaian ponsel dan kapan ponsel harus diganti, jangan sampai ponsel kita meledak dulu baru diganti.
Kali ini pertimbangan dalam pemilihan ponsel berdasarkan pertimbangan harga versus aspek fungsional dari ponsel tersebut. Dan pilihan saya jatuh pada Sony Ericsson Naite yang hanya seharga 1,3 juta tapi sudah mencakup fitur-fitur yang memang saya butuhkan seperti kamera (cukup 2 MP), video, memutar music, mendengar radio FM, internet kecepatan tinggi (jaringan HSDPA/3.5G). Tapi sebenarnya pertimbangan utama saya adalah fitur HSDPA/3.5G pada ponsel ini, karena setahu saya ini adalah ponsel 3.5G yang paling murah. Untuk masalah kamera sebenarnya saya tidak terlalu membutuhkan fitur ini, karena saya sudah terlanjur lengket dengan Canon 1000D untuk masalah jepret menjepret foto. Kelemahan ponsel ini bagi saya, tidak ada fitur video call, karena tidak dilengkapi dengan kamera depan.
Nah, kenapa saya tertarik sekali dengan fitur 3.5G di ponsel ini? Jawabannya karena saya ingin punya ponsel yang sekaligus bisa digunakan sebagai modem internet. Oiya, bagi anda yang belum begitu familiar dengan istilah-istilah teknologi telekomunikasi, saya bisa jelaskan sedikit apa itu UMTS, HSDPA, 3G dan 3,5G.
http://www.sonyericsson.com
3G adalah istilah yang digunakan untuk teknologi seluler digital generasi ketiga dengan akses internet berkecepatan tinggi. Lalu apa itu UMTS dan apa pula HSDPA itu? UMTS adalah singkatan dari Universal Mobile Telecommunications System yaitu teknologi telepon seluler generasi ketiga dengan kecepatan akses internet kecepatan tinggi (broadband) melalui teknologi seluler hingga 384kbps setara dengan kecepatan Telkom Speedy (biasa disebut dengan 3G), sedangkan HSDPA adalah pengembangan lebih lanjut dari UMTS dengan kecepatan akses internet hingga 3.6 Mbps yang biasa disebut juga dengan 3.5G.






wah..hape baru neeh..
nokia 3200 ku malah dah sejak 2004 mas…pingin ganti hape juga nih..dah ngadat2…tapi masih cuman sekedar pingin..he..
beli Sonim XP3 aja bos, tahan banting
@bapake dina: wah, bener. Cocok dipakai untuk kerja di sekitar furnace n nyelam di water reservoir.
@nobody: ntar beli Sonim XP3 aja ya.
wah, emoh ah sonim xp3….btw telpon kok dibawa bwt nyelam?? lha sik arep nelpun ning ngisor banyu sopo mas?? blukuthuk blukuthuk…
ganti blackberry ato iphone dong….!!
android aja…!;)